Arsip Bulanan: Mei 2012

“Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana.”

Sekadar Pandangan Sekilas Rabindranath Tagore

Ketika sedang menaiki kereta, perempuan itu sekilas berbalik dan melemparkan pandangan terakhirnya.

Dalam dunia yang luas ini apakah ada tempat, bagaimanapun kecilnya, bagiku agar bisa bertahan ?—tempat tak satu saat atau satu menit atau satu jam pun bias meninggalkan jalinan berat yang terus- menerus—tempat seperti itu, di mana aku bias menemukan ?

Semua warna awan keemasan menghilang ke dalam senja—apakah pandangan itu juga akan menghilang di dalam kegelapan yang sama ? …selengkapnya

Sebuah Cerita yang Sangat Singkat Ernest Hemingway

Pada suatu sore yang panas di Padua mereka membawanya ke tingkat atas dan Nampak olehnya pemandangan atas kota. Di  langit Nampak asap membum bung dari cerobong- cerobong. Beberapa saat  kemudian hari-hari gelap dan lampu sorot menyala. Orang-orang lain turun membawa botol-botol itu ke bawah. Ia dan Luz bias mendengar suara-suara mereka di bawah balkon. Luz duduk di tempat tidur. Perempuan itu Nampak dingin dan segar pada malam yang panas itu.
…selengkapnya

Janji

Berjalan sendiri di tengah kesunyian malam ini.
Udara,menusuk tulang-tulang jemari..
Lelah dan lapar seolah tak ingin kau bagi.
Merasakan pahit manis kehidupan ini.

Engkau tak ingin menunggu..
Apalagi berpangku,
Namun bila kau terbelenggu,
datang juga dalam hatimu,
“dimana janji-janji itu ?”

24 Agustus 2010
20.41

LAYAR TERKEMBANG

Pengarang       : S. Takdir Alisyahbana

Penerbit           : Balai Pustaka

Tuti dan Maria adalah kakak beradik, putri dari Raden Wiriatmadja. Tuti dikenal sebagai orang yang teguh berpendirian, pendiam dan juga serius. Sedangkan adiknya Maria adalah gadis yang periang dan lincah.

Suatu hari, mereka pergi jalan-jalan ke pasar ikan.Tak sengaja mereka berkenalan dengan seorang pemuda bernama Yusuf, saat sedang melihat-lihat ikan di akuarium. Pemuda itu adalah mahasiswa Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura, Sumatera Selatan. Dari perkenalan tersebut, Yusuf sepertinya tertarik dengan Maria. Terutama karena watak Maria yang selalu tersenyum dan ceria.  Senyum itu terus terbayang-bayang oleh Yusuf. …selengkapnya

BUKAN PASAR MALAM

Pengarang       : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara, cetakan 7, Maret 2009

Tokoh aku dalam novel ini merupakan perwira revolusi yang kritis. Ia sangat terkejut ketika mendapat surat dari ayahnya yang mengabarkan bahwa beliau sedang sakit. Dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, ia pulang ke Blora dengan meminjam sedikit uang dari temannya. Dalam perjalanan, istrinya yang cerewet terus memperingatkan agar tak terlalu lama di Blora. Tokoh aku sangat jengkel, karena selama bertahun-tahun ia belum pernah pulang ke rumah, sekali pulang malah dipermasalahkan.

Sesampainya di rumah, ia disambut oleh adik-adiknya. Adik perempuannya yang sakit, menangis di dalam kamar. Tokoh aku, yang kemudian dipanggil Gus, semakin sedih melihat keadaan keluarganya seperti ini. Ia merasa sangat bersalah karena telah lama tak pulang. Ketika ia menjenguk ayahnya di rumah sakit, ia mengusulkan agar ayahnya dibawa ke sanatorium. Tetapi ayahnya tidak mau. Sudah terlambat katanya. …selengkapnya

BELENGGU

Pengarang : Armijn Pane
Penerbit : Dian Rakyat, 1994

Soekartono ialah dokter yang sibuk. Saking sibuknya, ia sering pulang ke rumah larut malam. Selain itu, ia dikenal sebagai dokter yang ramah dan baik hati kepada pasien. Hari demi hari berlalu, Istrinya, Tini, terlalu cuek kepadanya. Tini sering sekali keluar rumah. Tak jarang ia pergi tanpa pamit. Bahkan ia tidak mengatakan kepada dokter Soekartono bahwa ada pasien yang menunggunya.
Suatu hari, dokter Soekartono datang ke rumah pasiennya. Namanya Nyonya Eni. Ia tidak menemukan penyakit apa-apa pada Nyonya Eni. Perkiraannya, Nyonya Eni terlalu banyak pikiran karena usai bercerai dengan suaminya.
Lama kelamaan, dokter Soekartono dekat dengan Nyonya Eni. Bahkan ia memanggil Nyonya Eni dengan panggilan kesayangan, yaitu “Yah”.Pernah ia merasa bersalah terhadap Tini. Namun mau apa lagi. Tini tidak pernah memperdulikannya lagi. …selengkapnya