BELENGGU

Pengarang : Armijn Pane
Penerbit : Dian Rakyat, 1994

Soekartono ialah dokter yang sibuk. Saking sibuknya, ia sering pulang ke rumah larut malam. Selain itu, ia dikenal sebagai dokter yang ramah dan baik hati kepada pasien. Hari demi hari berlalu, Istrinya, Tini, terlalu cuek kepadanya. Tini sering sekali keluar rumah. Tak jarang ia pergi tanpa pamit. Bahkan ia tidak mengatakan kepada dokter Soekartono bahwa ada pasien yang menunggunya.
Suatu hari, dokter Soekartono datang ke rumah pasiennya. Namanya Nyonya Eni. Ia tidak menemukan penyakit apa-apa pada Nyonya Eni. Perkiraannya, Nyonya Eni terlalu banyak pikiran karena usai bercerai dengan suaminya.
Lama kelamaan, dokter Soekartono dekat dengan Nyonya Eni. Bahkan ia memanggil Nyonya Eni dengan panggilan kesayangan, yaitu “Yah”.Pernah ia merasa bersalah terhadap Tini. Namun mau apa lagi. Tini tidak pernah memperdulikannya lagi.

Ternyata Nyonya Eni yang dipanggilnya “Yah”, adalah Rohayah, sahabat kecilnya di kampung dahulu. Pantas saja ia merasa tak asing dengan wajah Nyonya Eni.
Tini mulai merasa aneh dengan kelakuan suaminya. Soekartono tidak mendebatnya lagi seperti dulu., saat ia berbicara. Ia merasakan dirinya hampa tanpa kasih sayang.
Saat pertemuan komite, teman-teman dokter Soekartono telah menduga ada yang tidak beres dengan rumah tangga dokter Soekartono . Nyonya Rusdio, orang yang telah dianggap dokter Soekartono seperti ibu sendiri, menasehati Tini agar tidak terlalu sering keluar, apalagi malam-malam. Sedangkan Tini membela diri karena dokter Soekartono selalu pergi dan tidak memperdulikannya lagi.
Suatu hari, dokter Soekartono berkumpul bersama kedua temannya yang dulu di kampung. Ia membuat janji dengan Hartono agar bertamu ke rumahnya keesokan harinya. Sampai di rumah dokter Soekartono, Hartono menunggu sekian lama. Tak lama kemudian, Satanglah Tini. Tini sangat terkejut saat Hartono datang. Tini menangis sejadi-jadinya. Bahkan ia telah membuang semua kenangan tentang Hartono, dan menganggap Hartono telah mati. Hartono pun begitu, ia sama terkejutnya dengan Tini. Hartono mulai menjelaskan tentang kejadian masa lalu. Setelah pertengkaran yang cukup lama, mereka berjabat tangan dan memutuskan untuk tidak mengungkit masa lalu dan melanjutkan hidup masing-masing.
Di sisi lain, dokter Soekartono sedang menjadi juri pada kontes keroncong. Ia terkejut Ketika Siti Hayati dari perkumpulan Kembang Mekar yang ia puja-puja selama ini adalah Rohayah. Benar dugaanya selama ini tentang suara Rohayah yang persis seperti Siti Hayati.Tini semakin tidak tahan dengan keadaan rumah tangganya. Ia kemudian pergi ke rumah pamannya di Solo. Pamannya mengantarkan Tini kembali ke Jakarta, dan berusaha mendamaikan keduanya. Namun hal itu sia-sia. Tini meminta cerai dari Tono. Tono sangat terkejut dan berusaha meyakinkan Tini, apakah keputusan itu hanya emosi sesaat. Tetapi Tini bersikeras kepada Tono. Tono menceritakan hal ini kepada Yah. Yah meminta Tono agar tidak menemuinya dulu, setelah kepergian Tini kembali ke rumah orangtuanya.
Dalam perjalanan pulang, Tini menangis, memikirkan keadaan dirinya yang hampa, dan rumah tangganya yang berantakan. Sementara Tono menemui Yah, sehari setelah kepergian Tini. Yah pergi, ia meninggalkan sepucuk surat untuk Tono. Masing-masing mereka sendiri, berada pada kehidupan mereka. Tono masih mengenang Yah, dan Yah juga begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: