BUKAN PASAR MALAM

Pengarang       : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara, cetakan 7, Maret 2009

Tokoh aku dalam novel ini merupakan perwira revolusi yang kritis. Ia sangat terkejut ketika mendapat surat dari ayahnya yang mengabarkan bahwa beliau sedang sakit. Dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, ia pulang ke Blora dengan meminjam sedikit uang dari temannya. Dalam perjalanan, istrinya yang cerewet terus memperingatkan agar tak terlalu lama di Blora. Tokoh aku sangat jengkel, karena selama bertahun-tahun ia belum pernah pulang ke rumah, sekali pulang malah dipermasalahkan.

Sesampainya di rumah, ia disambut oleh adik-adiknya. Adik perempuannya yang sakit, menangis di dalam kamar. Tokoh aku, yang kemudian dipanggil Gus, semakin sedih melihat keadaan keluarganya seperti ini. Ia merasa sangat bersalah karena telah lama tak pulang. Ketika ia menjenguk ayahnya di rumah sakit, ia mengusulkan agar ayahnya dibawa ke sanatorium. Tetapi ayahnya tidak mau. Sudah terlambat katanya.

Ayahnya adalah seorang nasionalis sejati. Dan ia sakit karena terlalu banyak dikhianati.. Sebenarnya saat dipenjara oleh Pesindo, badan beliau menjadi kurus. Namun jauh lebih baik daripada saat bebas dari penjara. Ia diangkat oleh pemerintah Belanda menjadi seorang kepala sekolah. Warga mengira ia pembela Belanda. Padahal ia sangat nasionalis. Ia memperjuangkan nasib bangsanya. Namun kenyataannya, masih banyak korupsi disana-sini. Kesejahteraan rakyat belum juga tercapai. Keadaan inilah yang membuat beliau makin buruk dan menjadi penjudi berat. Ayahnya pernah ditawari menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan koordinator pengajaran untuk mengatur pengajaran di daerah Pati. Namun ia menolak karena enggan berada di kantor. Ia lebih senang berada di sekolah. Andaikan ia menerima tawaran itu, pasti bisa berobat di sanatorium.

Hari demi hari berlalu. Keadaan ayahnya makin memburuk. Ia meminta agar pulang ke rumah saja. Gus menuruti dan segera meminta ijin dokter untuk membawa ayahnya pulang. Di rumah keadaan beliau memburuk. Tetapi beliau terlihat gembira. Obat tak diminumnya lagi. Segala pantangan yang diberikan dilanggar untuk menyenangkan hati ayahnya. Anak-anaknya pun bersepakat untuk menuruti semua permintaan beliau karena sudah tak ada harapan lagi.Hingga pada suatu senja, beliau meninggal dunia.

Para tamu berdatangan. Tetangga yang dekat dengan beliau menyesal. Karena selama beliau sakit mereka tak datang untuk menjenguk. Sedangkan saat beliau sehat mereka mencari-cari beliau untuk bersenang-senang. Dan kini beliau pergi seorang diri. Selang beberapa saat, datanglah Mantri yang satu partai dengan ayahnya. Ia menceritakan tetntang obligasi negara yang hilang lima belas lembar karena dibawa oleh tikus untuk membuat sarang. Beliau menganti harga obligasi itu dengan menjual semua barang yang ia miliki. Setelah jenazah ayahnya dikebumikan, Gus bersedih hati. Belum ada setahun setelah kemerdekaan, ayahnya telah pergi. Seolah seperti tak digunakan lagi oleh sejarah. Beliau belum sempat mencicipi kesejahteraan dalam hidup. Bahkan gaji guru belum dibayar selama setengah tahun.

Sehari setelah kepergian ayahnya, datanglah tamu baru yang menceritakan tentang kehidupan ayahnya. Semenjak awal ayahnya sehat hingga terserang TBC kilat. Ia menceritakan bahwa ayahnya gugur di medan politik. Teman-teman beliau yang dulu menjadi jendral di daerah gerilya dan menduduki kedudukan-kedudukan penting sebelum Belanda menyerbu, yang sungguh-sungguh menjadi bapak rakyat, kini setelah kemerdekaan mereka saling berebut gedung dan kursi. Ayah Gus yang tak tahan dengan semua ini, terus menyimpannya sendiri tanpa mengungkapkan apapun kepada mereka. Beliau terus bertahan dalam lingkungan seperti ini, hingga terkena TBC kilat, dan terus menggerogoti tubuhnya hingga meninggal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: