Sekadar Pandangan Sekilas Rabindranath Tagore

Ketika sedang menaiki kereta, perempuan itu sekilas berbalik dan melemparkan pandangan terakhirnya.

Dalam dunia yang luas ini apakah ada tempat, bagaimanapun kecilnya, bagiku agar bisa bertahan ?—tempat tak satu saat atau satu menit atau satu jam pun bias meninggalkan jalinan berat yang terus- menerus—tempat seperti itu, di mana aku bias menemukan ?

Semua warna awan keemasan menghilang ke dalam senja—apakah pandangan itu juga akan menghilang di dalam kegelapan yang sama ?

Serbuk sari keemasan di dalam bunga leli terhapus oleh curah hujan, apakah pandangan itu juga akan terhapus ?

Tertinggal untuk menyebar diantara ribuan hal-hal duniawi, apakah ada kesempatan baginya untuk bertahan—diantara ribuan kata-kata yang terucap, ribuan kepedihan yang memuncak ?

Pemberian kesempatan dari pandangan yang tiba-tiba ditujukan bagiku melebihi apapun di dunia. Aku akan menyimpannya dalam melodi sebuah lagu, dalam syair berima. Aku akan memberinya tempat indah seperti di nirwana.

Kekuasaan raja, kekayaan si kaya dibnagun diatas dunia ini untuk mati. Tetapi, apakah ada satu tetes madu pun dalam yangis seseorang yang akan membuat pandangan saat itu tetap hidup dalam keabadian ?

Melodi lagu itu berbunyi, ‘Ya, biar kucoba. Aku tidak menyentuh kekuasaan yang seperti raja atau pun kekayaan orang berpunya, tetapi hal – hal yang begitu sederhana ini adalah kekayaan abadiku; dengan hal- hal inilah aku merangkai sebuah kalung untuk yang Tak Berbatas.’***

(diambil dari Tukang Sulap Itu Menghilangkan Panciku, Seri Cerpen Dunia, diterjemahkan oleh Indria Sabati, Penerbit INDONESIATERA, cetakan pertama, Januari 2003)

Sedikit Ulasan

Alasan mengapa saya memposting cerita pendek ini, sederhana. Mungkin karena hal seperti ini banyak terjadi pada kehidupan kita, dan kita melewatkan kesempatan itu begitu saja. Atau tepatnya, cerita ini mirip dengan cerita saya dari pandangan subjektif saya.

Rabindranath Tagore merupakan sastrawan besar dari India, yang lahir pada tahun 1861 di Calcutta dan meninggal tahun 1941. Ia pernah mendapat hadiah nobel pada tahun 1913. Tahun 1927 ia mengunjungi Indonesia dan merekam perjalanannya dalam serangkaian surat yang berjudul “Letters from Java.”

Karya – karya besar Rabindranath Tagore tidak hanya dalam  novel dan cerpen. Ia juga berkarya dalam Musik dan seni rupa, drama dan teater, juga puisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: