5 cm

Pengarang      : Donny Dhirgantoro

Penerbit          : Grasindo

Berawal dari persahabatan 5 manusia bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Arial adalah sosok yang tenang dan berbadan besar. Riani adalah perempuan cerdas berkacamata, cerewet namun berkarisma karena ia memiliki inner beauty. Zafran merupakan sosok yang mudah dikagumi oleh laki-laki maupun perempuan ketika melihatnya sekilas. Ian adalah manusia penggila bola dan suka tantangan. Genta adalah sosok yang paling dibutuhkan dalam kelompok mereka. Bahkan mereka akan patuh terhadap segala perintah Genta. Ia adalah sosok pemimpin dalam kelompok tersebut.

Saat berada di rumah Arial, tiba-tiba Zafran mengutip kata-kata Plato yang menyatakan bahwa nantinya manusia dalam kehidupannya akan terjebak dalam gua gelap yang berisi keteraturan, kemapanan, dan mereka senang berada di dalamnya. Karena mereka terbuai dengan segala kesenangan disana dengan apa yang telah mereka capai, hingga akhirnya merela takut keluar dari gua tersebut. Mereka bahagia tetapi dalam diri mereka kosong, karena mereka tidak mempunyai mimpi. Kelima sahabat ini saling berpikir dalam diri mereka. Akhirnya tercetus sebuah ide

agar mereka tidak berhubungan melalui apapun selama tiga bulan. Terhitung dari tanggal mereka menetapkan hal ini, sampai seminggu sebelum acara mereka bertemu baru boleh mengirimi pesan untuk persiapan.

Saat-saat membosankan mereka lalui dengan berbagai aktivitas. Seperti Ian contohnya. Ia kembali mengerjakan skripsinya yang sempat ia tinggalkan karena sudah putus asa. Berkat semangatnya untuk bangkit kembali, ia mampu menyelesaikan skripsinya dengan baik. Genta sukses dalam menyelenggarakan acara bersama Event Organizernya. Sampailah saatnya Genta untuk memberi tahu teman-temannya akan perrgi kemana ketika mereka bertemu kembali. Mereka berlima dan Arinda adik kembar Arial, bersiap-siap untuk melakukan perjalanan jauh yang dirahasiakan oleh Genta ke puncak gunung tertinggi di Jawa. Mahameru.

Sekitar setengah tiga pagi mereka tiba di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Mereka bertemu dengan ibu penjual nasi yang telah tua dan berjualan nasi sendirian karena ia seorang janda. Ibu itu telah berjualan dari sore, tetapi sepi pembeli. Ia juga harus pergi ke pasar siang harinya untuk mencari kardus agar bisa dijual lagi. Merekapun terharu dan berjanji akan hidup dengan baik. Mereka juga mengkritik negeri ini yang melakukan KKN secara turun temurun.

Saat perjalanan menuju Ranu Pane, mereka berkenalan dengan rombongan mahasiswa dari universitas terkenal di Surabaya. Daniek namanya. Ia menceritakan tentang teman mereka yang meninggal disana lima tahun yang lalu. Malam hari di Ranu Pane mereka gunakan untuk beristirahat. Sedangkan rombongan mahasiswa dari Surabaya akan memulai pendakian. Ian sempat parno saat mendengar nama teman mereka yang meninggal sama dengan dirinya. Ia sempat tertekan dan pesimis bisa mencapai Mahameru, apalagi setelah melihat kuburan yang ia kira hanya halusinasinya. Keesokan harinya, bapak tua yang satu jip dengan mereka kemarin menjelaskan bahwa disitu memang terdapat kuburan kecil yang mengingatkan kita antara hidup dan mati.Mahameru memang sebuah perjalanan hati.

Pagi hari mereka memulai pendakian. Sebagian dari mereka merasa letih karena baru pertama kali. Mereka sempat panik saat kehabisan air. Namun ketika Ranu Kumbolo muncul seperti tetesan air raksasa yang jatuh dari langit yang membesar, mereka terpana. Sebuah danau di ketinggian dengan pohon pinus dan cemara berbaris rapi di sekelilingnya. Mereka langsung menghambur dan bermain air seperti anak kecil. Pukul tiga sore mereka melanjutkan perjalanan, hingga sampai di Kalimati kaki Riani mengalami kram hebat. Kaki Zafran yang tadinya lecet di perjalanan, mengeluarkan banyak darah dan mulai bernanah. Setelah mngembalikan aliran darah kaki Riani, mereka meneruskan perjalanan sampai akhirnya tidur di Arcopodo.

Pukul setengah tiga pagi mereka mulai mendaki hanya dengan membawa back-pack. Carrier mereka tinggal di tenda. Dalam perjalanan, mereka berhenti di batu nisan Adrian, teman Deniek. Mereka membaca surat kecil dari Deniek yang isinya menceritakan kebaikan Adrian selama masih hidup. Hal itu mengajarkan kepada mereka berenam agar hidup bermanfaat untuk orang lain.

Saat perjalanan menuju puncak Mahameru, Arial drop. Namun ia bangkit setelah mendapat semangat dari teman-temannya. Bongkahan-bongkahan batu terus menggelinding turun menyerbu mereka. Tiba-tiba bongkahan pasir seperti air bah memenuhi jalur pendakian. Pasir itu mengenai Dinda dan Ian hingga tak sadarkan diri. Dinda segera sadar, namun Ian yang kepalanya terkena batu tak sadrakan diri. Teman-temannya panik karena setelah Genta melakukan prosedur CPR dan Ian berhasil memuntahkan pasir, dada Ian berhenti naik turun. Namun setelah teriakan panjang Zafran, Ianpun tersadar. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Ian melanjutkan perjalanan dengan kepala yang dibungkus perban. Sebelum melanjutkan perjalanan Ian dan Zafran bertemu seorang mahasiswa menggunakan almamater dan membawa bendera merah putih memberi salam dan menyemangati mereka agar segera mengikuti upacara bendera di puncak.

Setelah sampai di puncak, mereka terharu dan melakukan sujud syukur. Tetesan air mata mengiringi pengibaran bendera Sang Merah Putih. Saat turun dari puncak, Ian dan Zafran melihat batu nisan Adrian sekali lagi. Terkejut karena yang menyapa mereka berdua tadi adalah Adrian, Ian dan Zafran menceritakan hal ini kepada teman-teman mereka saat menginap di Ranu Kumbolo. Merekapun terkejut karena hanya Ian dan Zafran yang melihat Adrian.

Malampun tiba, semua sudah masuk ke dalam tenda kecuali Genta dan Riani. Genta merasa inilah saatnya untuk mengungkapkan perasaannya selama ini kepada Riani. Namun Genta terpaksa harus kuat karena yang selama ini ada dalam hati Riani adalah Zafran. Genta telah lebih dari seorang sahabat bagi Riani, itu yang Riani rasakan sehingga cerita tentang Zafranpun bisa mengalir semuanya. Di dalam tenda, Zafran yang belum tidur mendengar pembicaraan mereka. Ia menyesal karena sifatnya yang menyukai Dinda terlalu berterus terang di depan Riani. Sedangkan Dinda yang sudah memejamkan mata tapi tidak hatinya, berusaha untuk segera tertidur karena ia tak mau lagi mendengar terlalu banyak kata-kata dari Genta pujaan hatinya.

Sepuluh tahun pun berlalu. Riani telah menjadi istri Zafran. Arial bersama Indy, perempuan yang ia kenal di tempat fitness dulu. Dinda telah hidup bersama dengan Deniek. Ian menikah dengan Salma, dan Genta menikah dengan Citra, teman sekantor Riani. Latihan pengibaran bendera anak-anak mereka, telah mempertemukan mereka kembali. Dalam suasana seperti pengibaran bendera di Puncak Mahameru, mengingatkan mereka akan mimpi-mimpi yang selalu mereka gantung lima centimeter di depan kening mereka sampai kapan pun. Tuhan telah memberikan kebebasan bahwa setiap manusia bisa memulai kembali dari sekarang, dengan akhir yang baru, akhir yang indah. Dan bangsa yang besar ini pun harus mempunyai mimpi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: