Sebelas Patriot

Pengarang      : Andrea Hirata

Penerbit          : Bentang

 

Ayah Ikal adalah orang yang biasa saja. Beliau bekerja sebagai kuli di PN Timah, dengan gaji kecil. Saat sedang bermain, tak sengaja Andrea menemukan album foto. Saat ibunya tahu, ia langsung dimarahi dan dilarang melihat album foto itu lagi. Karena didorong oleh rasa penasaran Ikal mencari album foto itu, dan memasukkan foto salah satu orang yang membuat ia penasaran.

Pada waktu pejajahan Belanda di Belitung dulu, anak laki-laki di bawah umur disuruh kerja rodi di tambang. Diantaranya terdapat anak berusia 13, 15 dan 16 tahun. Mereka dipaksa menggantikan ayah mereka yang telah meninggal. Saat VOC membentuk maskapai timah, para karyawan diberi kesempatan membentuk tim olahraga. Pada saat kelahiran Ratu Belanda yang harus diperingati di Belitung, Van Holden mengadakan peringatan dengan mengadakan kompetisi piala Distric baheerder. Namun ketidakadilan masih mewarnai pertandingan ini. Orang jajahan tidak boleh menang melawan penjajah. Semua orang yang melawan akan dimasukkan tangsi dan dipukuli sampai babak belur atau ditembak mati.

Ikal menanyakan foto bergambar seseorang memegang kepala dan dikakinya terdapat sebuah bola kepada orang seangkatan ayahnya, yaitu sang pemburu tua. Pemburu menceritakan bahwa pada saat itu, ayah Ikal dan dua saudaranya yang belakangan diketahuai adalah anak yang berusia 13, 15 dan 16 tahun tersebut, pernah dibuang dan disuruh bekerja membangun mercusuar Belanda. Walaupun telah dilarang bermain oleh Belanda, ayah Ikal dan sepuluh pemain lainnya tetap bermain pada laga final piala Distric baheerder. Saat itu mereka menang, ayah Ikal tak henti-hentinya meneriakkan “Indonesia! Indonesia!”. Sesudah peristiwa itu Pelatih Amin, ayah Ikal dan kedua saudaranya dianggut ke tangsi. Mereka dikurung selama seminggu, kemudian ayah Andrea pulang dengan kaki kiri yang hancur. Padahal ayah Ikal merupakan pemain sepak bola sayap kiri yang berbakat.

Dengan dilatih Pelatih Toharun, Ikal akhirnya menjadi pemain junior kabupaten. Ia sempat mengikuti seleksi provinsi menuju PSSI, tetapi tidak beruntung. Ia mencoba berkali-kali, namun gagal. Ia merasa bersalah kepada ayahnya, karena ia ingin menduduki posisi sayap kiri ayahnya yang sempat dirampas Belanda.

Saat SMA, Ikal mengembara melanjutkan sekolah di Universitas Sorbonne, Perancis. Ia telah merencanakan akan backpacking merambah Eropa an Afrika bersama saudaranya, Arai. Mereka berpisah di Spanyol. Ikal ingin mencari kaos bertuliskan Luis Figo dipunggungnya di toko resmi Real madrid, untuk ayahnya. Sesampainya di toko resmi Real Madrid, ia mengambil kaos Figo dan membawanya ke kasir.Penjaga toko yang bernama Adriana itu mengatakan bahwa ada kaos bertanda tangan asli Luis Figo dan hanya tinggal satu. Ikal mengatakan bahwa ia akan kembali untuk kaos itu kepada Adriana. Kemudian ia membelikan kaos Barcelona FC untuk Pelatih Toharun. Setelah menjalani pekerjaan sebagai tukang cat dan angkat-angkat barang pada siang hari, sedangkan malamnya menjadi tukang memungut bola, ia mendapatkan uang untuk membeli kaos tersebut. Ia segera kembali ke toko resmi Real Madrid.  Setelah terengah-engah, tatapannya lesu ketika melihat kaos tersebut sudah tidak ada di-display. Ternyata Adriana menyimpan kaos itu untuknya dan ia berjanji akan bertemu Adriana di coffee shop sore nanti. Dii coffee shop itu Adriana menawarkan tiket pertandingan Real Madrid melawan Valencia.

Sebelum datangnya hari pertandingan Real Madrid, Andrea dan Adriana saling membuat janji di coffee shop. Mereka berbicara apapun tentang bola. Bola sebagai psikologi, politik, bisnis, keikhlasan, agama, budaya, sejarah, cinta, patriotisme dan sastra. Tibalah saatnya pertandingan Real Madrid melawan Valencia. Adrian telah mengenakan kaos Real Madrid dan wajah penuh coretan warna-warni. Saat Real Madrid berhassil mencetak gol, semua orang meneriakkan “Real ! Real !”, tetapi Andrea meneriakkan “Indonesia ! Indonesia !”. Menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai sepak bola dan 90% mencintai Tanah Air. Keesokan harinya, Andrea mengirim kaos beserta surat yang pada bagian akhir surat itu ia tulis puisi untuk ayahnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: