Pulang

untuk Pramoedya Ananta Toer

(Lampu hidup)

Wulan dan Pras duduk di teras siang itu.

Wulan : Mas datang! Mas dataaang! (menghambur keluar lalu berhenti sejenak dan melihat istri Gus)

Pras : (menghampiri dan membantu membawakan barang)

Pras: (bersalaman dengan Gus dan Istri) Dhik, ayo salaman! Tolong buatkan mas kopi manis ya.

Wulan: Iya mas.

Gus : (duduk di teras) Bagaimana kesehatan bapak?

Pras: Kiriman pil dan selimut darimu sudah kami terima. Wesel sudah kami ambil kemudian kami belikan susu dan telur seperti pesanmu. Kemeja, selimut, pil, susu dan telur kami bawakan kepada bapak. Tapi bapak menyuruh kami membawa pulang semua barang itu.

Gus : Lalu pil itu?

Pras: beliau sudah menghabiskan satu tube, tapi beliau sudah bosan telur dan susu.

Gus : Bagaimana kesehatan bapak?

Pras: (Diam dan matanya berkaca-kaca)

Gus : (melihat perubahan air muka adiknya) Dimana Minah? Aku tak melihatnya dari tadi. Kudengar, ia sudah bersuami, benarkah?

Pras: ia ada di kamar.

Gus : Wulan..sini sebentar.

Wulan: Iya mas.

Wulan: maaf mas, kopinya belum jadi.

Gus : (tersenyum) Tolong panggilkan mbakmu, Minah

Wulan: Nggih mas.

Beberapa saat ia kembali

Wulan : (membawakan kopi dan menyuguhkan) Mbak sedang tidur.

Gus : Bagaimana keadaannya, aku baca dari telegram ia sakit.

Pras: (diam)

Wulan: (diam)

Pras: Tolong lihat dia lagi Wul, barangkali mbakmu sudah bangun.

Wulan: Sebentar mas

Wulan masuk ke dalam kamar

Wulan : Mbak, mas datang. Mbak..Mbak..

Ia kembali tanpa Minah

Wulan: Mbak menangis di kamar.

Pras : (berdiri dan menghampiri ke kamar)

Gus : (akan mengikuti pras, namun diurungkan niatnya)

Wulan : (mengikuti Pras)

Minah keluar dan bercakap-cakap dengan Gus di teras

Gus : Mengapa kamu begitu kurus? (memeluk Minah)

Minah : Sudah lama aku sakit Mas.

Gus : Sudah ke dokter?

Minah tidak menjawab

Gus : Mungkin kamu harus dibawa ke kota besar agar dapat ditangani oleh dokter spesialis. Agar kau cepat sembuh.

Minah terus terisak, dan Gus menenangkan

Gus : Aku dengar, kamu sudah melahirkan seorang anak. Dimana dia?

Minah : (sambil terisak dan mengatakan dengan berat) Waktu itu, aku melahirkan dia saat ia baru berumur enam bulan. Sekali aku mendengar ia menangis, setelah itu..(terisak) setelah itu..ia pergi Mas. (semakin terisak)

Gus : (menghapus air matanya dan menenangkan Minah) Kau masih muda Dik (mengelus pundak Minah), masih bisa punya anak lagi. Dan Suamimu?

Minah : Sedang dilatih di Semarang, Mas.

Gus : (mengelus kepala Minah) Tidurlah, banyaklah beristirahat.

Minah masuk ke dalam rumah meninggalkan Gus yang merenung di teras.

Gus : ( Pandangan menerawang, meminum kopinya yang telah dingin dan menyalakan rokok)

Di rumah sakit

Ayah gus : Gus?

Gus : (mendekat dan menggenggam tangan ayahnya)

Ayah Gus : kapan kau datang?

Gus : Siang tadi Pak, jam dua belas.

Ayah gus : cepat sekali (Diam dan seperti menahan sakit)

Gus : Dan ini menantu bapak

Ayah Gus : Sini nak

Istri Gus : (Sungkem)

Ayah Gus : Selamat ya, selamat.

Gus : Bagaimana keadaan bapak?

Ayah Gus : Sama saja gus. Hanya pil yang kau berikan sudah mampu menghilangkan bau busuk dari mulutku. (batuk-batuk) Jangan dekat-dekat. (batuk-batuk)

Gus : bagaimana kalau bapak dibawa ke sanatorium saja?

Ayah Gus : sudah terlambat anakku

Gus : Apakah bapak mau doklonyo?

Ayah Gus : (mengangguk) Apakah kau dapati kerusakan dalam tawanan?

Gus : Tidak Bapak (mengisyaratkan kepada Pras untuk membawakan doklonyo)

Istri Gus : (mendekat) bagaimana makan Bapak?

Ayah Gus : siapa kiranya yang ingin makan makanan seperti itu?

Istri Gus : (Mengangkat piring dan melihat daging yang kecil) Bapak mau makan apa?

Ayah Gus : Aku tidak ingin makan apa-apa.

Pras : (datang membawa doklonyo)

Istri Gus : (memeras dan meletakkan doklonyo ke dada ayah)

Ayah Gus : Ah..segarnya, terimakasih (memejamkan mata sejenak)

Ayah Gus : (melihat arloji saku) Sepertinya hari sudah petang.

Pras : (membisikkan sesuatu kepada Gus)

Gus : Baiklah bapak, kami akan pulang ke rumah. Permisi (sungkem)

Istri gus dan pras : (Sungkem kepada ayah)

Saat yang lain akan pergi, ayah Gus memanggil Gus

Ayah gus : Gus, sekarang kau sudah menikah. Dan istrimu itu dari daerah Pasundan. Kau dilahirkan dari Jawa Tengah. Banyak atau sedikit, pasti ada perbedaan kehidupan orang yang dilahirkan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jadi (serangan batuk hebat mengguncang ayah gus), jadi kau harus memperhatikan tingkah lakunya. Jangan sampai kau melukai perasaannya.

Gus : Iya Bapak, permisi

Beberapa hari kemudian

Gus : Bapak, aku akan memperbaiki rumah kita.

Ayah Gus : Iya, perbaikilah..rumah itu sudah sangat tua.

Ayah Gus : Sumur itu..jangan lupa perbaiki temboknya. Orang-orang butuh air.

Gus : Iya Bapak.

Istri Gus : Makan dulu bapak, ini saya bawakan sup. (menyuapi ayah Gus beberapa suap)

Ayah Gus : Sudah sudah..cukup

Istri Gus : (meletakkan sup diatas meja dan mengajak gus keluar) Seperti yang kita rundingkan tadi malam. Kita harus segera pulang. Kalau terlalu lama, keuangan kita tidak akan cukup.

Gus : (berpikir sejenak lalu masuk ke kamar diikuti istrinya)

Gus : Bapak, bagaimana kalau kami kembali dulu ke Jakarta?

Ayah Gus : Tunggu seminggu dulu ya.

Gus : (Menggenggam tangan ayahnya) Bapak tidur dulu ya, harus banyak istirahat.

Ayah Gus : (memejamkan mata sejenak lalu batuk-batuk dan memberikan isyarat untuk menjauh)

Ayah Gus : Es anakku, es..

Gus : (Ragu-ragu)

Ayah Gus : (tangannya menggapai-gapai) Es anakku.

Gus : (Datang membawakan es)

Ayah Gus : (meminum es) Segarnya..nafasku menjadi lega kalau aku minum es

Gus : (tersenyum getir)

Keesokan harinya

Dukun : (Merenung)

Gus : Bagaimana Pak?

Dukun : Sepertinya saya tidak bisa banyak membantu. Saya kenal betul ayah Tuan. Dan kemampuan beliau berada di atas saya.

Dukun : Sebetulnya saya berhutang budi pada ayah Tuan. Ayah Tuan yang menempatkan saya disini. Saya ditempatkan waktu Belanda masih di sini. Ayah Tuan memberi perintah untuk membuka sekolah itu kembali. Walaupun saya takut menjadi pegawai Belanda di luar kota, tetapi ayah Tuan menenangkan saya. Berapa tahun ayah Tuan jadi guru?

Paman Gus : Tiga puluh tahun

Dukun : Alangkah kuatnya

Paman Gus : Mungkin penyakit itu didapat waktu beliau menjadi pengawas sekolah. Beliau harus bersepeda menempuh jarak belasan kilometer.

Dukun : Bukan pada hal itu. Mengayuh sepeda belasan kilo bukanlah hal berat bagi seorang guru. Namun pada mengajar. Menelan pahitnya kesalahan-kesalahan pendidikan orangtua si murid. Maka yang selalu saya bilang kalau kau belum siap jadi guru, urungkanlah niatmu. Kewajiban seorang guru sangatlah berat, menumbuhkan kebaikan yang ada dalam tubuh anak-anak bangsa.

Dukun : Karena aku sendiri seorang guru, maka dapat aku katakan bahwa peranan ayahmu sangatlah besar di kalangan para guru. Kalau tidak ada larangan menengok selain keluarga, maka mereka semua akan datang menengok ayahmu. Tapi untunglah ada larangan itu. Bila tidak, kasihan ayahmu.

Paman Gus : Bila seorang dukun dalam perenungannya tidak mendapatkan suatu usada, maka ini menjadi sebuah pertanda. Ah..tidak. Semoga saja selamat.

Di teras rumah

Pras : Keadaan ayah semakin mengkhawatirkan. Setiap kali badai batuk datang, beliau selalu meminta es. Dan semakin hari, permintaan ayah selalu aneh. Hameminta ini, besok meminta itu, tapi tak dimakannya makanan-makanan itu. Ini merupakan suatu pertanda Mas..

Gus : (menghela nafas) bagaimana keadaanmu waktu pendudukan merak Dik?

Pras : Ayah ditangkap pasukan merah, tidak tahu karena apa. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa mas.

Gus : Bagaimana ayah bisa lepas dari pasukan merah, Adikku?

Pras : Ayah dipenjarakan disini, kemudian digiring jalan kaki ke Rembang. Sampai ke Rembang, Siliwangi mulai masuk, dan ayah dibebaskan.

Gus : Ya, perang memang kutukan untuk manusia, Adikku. Perang ini menyuruh manusia untuk mendekati dirinya sendiri. Karena dalam diri sendiri itu terletak segala-galanya yang ada di dunia yang dirasakan juga oleh tiap orang.

Pras : Ya

Gus : (termenung)

Pras : (Diam)

Pras : Waktu ayah pulang, badannya sudah menjadi kurus

Gus : Dan waktu penyerbuan Belanda?

Pras : Belanda tak segera memasuki Blora, Mas. Belanda ditahan beberapa jam di Mantingan, lima kilometer dari sini. Tapi pasukan kita tak memiliki senjata berat, jadi Belanda masuk juga. Tapi waktu pertempuran yang sebentar itu sudah cukup jadi tanda buat menyusun tenaga di seberang kali. (melihat ekspresi gus) dan ayah juga ikut melarikan diri ke seberang kali.

Gus : Dan bagaimana penghidupan keluarga kita waktu itu?

Pras : (tertegun dan menjawab pelan-pelan) Mula-mula kami berjualan apa saja Mas. Kemudian makin lama mereka berhutang karena uang susah didapat. (Berkaca-kaca) Lalu mereka mulai tidak mau membayar. Seolah mereka puas melihat keluarga kita runtuh, Mas. (Mulai menitikkan air mata). Seakan mereka tidak tahu bahwa ayah sedang memperjuangkan Republik, Mas. (Tersedu dan mulai menangis).

Gus : Sudahlah Adikku, dunia terkadang memang aneh. Saat ada keluarga yang berhasil mengatasi masalah dalam keluarganya dan membantu masalah keluarga lain, mereka akan mencemooh keluarga tersebut. Biarkanlah semua itu berlalu, masih ada kakakmu disini. Dan aku akan berbuat sekuat tenagaku untuk membantu keluarga kita. (meneguk kopi)

Pras : Dan akhirnya ayah ditangkap Belanda, Mas. Ayah turun dari hutan dan menuju Ngawen. Saat itu beliau sedang tiduran di langgar. Dan saat membuka mata, ayah telah dikepung oleh Belanda. Saat ayah pulang, tiba-tiba beliau sudah menjadi tua. Ayah diangkat menjadi pengawas sekolah oleh Belanda dan gajinya lebih besar. Tentara-tentarapun tahu soal ini. Dan kau tahu yang terjadi setelah ini apa?

Gus : (meneguk kopinya sekali lagi dan menggeleng)

Pras : Tiap hari datang surat dari tentara atau pun orang-orang yang mengaku  non. Dan kau tahu isinya apa Mas? Mereka minta sokongan! Dan sokongan itu tidak pernah tidak dihiraukan oleh ayah. Tidak sekalipun Mas. Kadang, karena terlalu banyak orang yang minta sokongan, bahkan aku tidak mendapat uang belanja secepengpun dari ayah. Bahkan untuk kebutuhan makan ayah sendiri.

Pras : Dan semua ini mengingatkanku pada seorang Tionghoa yang membantu kami saat ayah berada di daerah gerilya. Entah mengapa ia mau berbaik hati menolong kami.

Gus : Itulah Dik, terkadang rasa kemanusiaan dapat menghubungkan perbedaan.

Pras : Ya Mas. Kemudian ayah terlalu banyak bekerja untuk Republik, dan waktu kita merdeka beliau jatuh sakit. Awalnya dokter mengatakan ayah terkena sakit paru-paru. Dan waktu kutanyakan ke orang-orang barangkali ayah bisa dibawa ke sanatorium. Orang-orang itu mengatakan kalau tidak pedagang atau pegawai tinggi tidak akan bisa mendapat tempat di sanatorium. (berpandangan dengan Gus, diam dan menunduk)

Pras : Waktu itu, ayah pernah mendapat tawaran untuk menjadi anggota perwakilan rakyat. Tapi ayah menolak tawaran itu.

Gus : Mengapa? Bukankah hal merupakan kesempayan baik untuk memperbaiki keadaan rakyat?

Pras : Aku tidak tahu Mas, waktu itu ayah bilang begini “Perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut—sekalipun badut besar.” Ayah juga sempat mendapat tawaran menjadi koordinator pengajaran untuk mengatur pengajaran untuk seluruh daerah Pati. Tapi ayah menolak juga dengan bilang “tempatku bukan di kantor, tempatku di sekolahan.” Ya, mungkin pendiriannya yang membuat ia berhenti menjadi pengawas sekolah dan memilih menjadi guru. Dan ayah pernah bilang, “kita guru-guru di tanah air kita ini, jangan sampai kurang seorang pun juga.”

Gus : Ya (merokok dan menerawang)

Pras : (meminum kopinya)

Di rumah

Istri gus : Lebih baik kita pulang dulu..kau tak ingat pada keuangan kita?

Gus : Aku takkan kembali ke Jakarta sebelum keadaan di sini sudah beres semua.

Istri Gus : Tapi keuangan kita tidak mengijinkan. Untuk perjalanan kesini saja kita harus berhutang pada teman.

Gus : tapi keadaan ayah seperti itu, aku tak tega meninggalkannya.

Istri gus : (diam)

Gus : Baiklah. Engkau boleh pulang dahulu. Dan aku masih akan tetap disini sampai semuanya beres.

Dan perdebatanpun berhenti

Ayah gus : (Batuk-batuk)

Gus : (memasuki kamar)

Ayah Gus : Apa yang kalian pertengkarkan? (bersusahpayah berusaha)

Gus : (kaget dan diam)

Ayah Gus : Apa yang kau pertengkarkan tadi?

Gus : (bingung dan tak berani menjawab. Mata gus tertaut dengan mata ayahnya)

Ayah Gus : Ya anaaku, kau tak perlu bertengkar lagi. Sungguh. Dunia ini hanya kemenangan saja yang dibutuhkan, Kemenangan. Kemenangan. Kemenangan..

Gus : (berdiri dan duduk di bangku)

Ayah Gus : (bernafas berat sambil memegang dada) Es..

Gus : Es telah habis bapak.

Ayah Gus : (memejamkan mata dan mengambil nafas berat)

Ayah Gus : Tolong minta voorschot gaji untuk bulan Maret. Sejak kita merdeka, guru belum lagi dibayar. Hampir setengah tahun ini.

Gua : Iya, Bapak

Ayah Gus : (mengaduh dan nafasnya berat, memejamkan mata)

Ayah Gus : Oh Allah..anakku, mengapa aku harus menunggu di ranjang ini? Pegangi tanganku anakku.

Gus : (menggenggam tangan ayahnya)

Ayah Gus : Yang kuat. (Tangannya menggigil)

Ayah Gus : Engkau tahu apa itu?

Gus : Dinding, bapak

Ayah Gus : Bukan. Bukan dinding. Itu timur.

Ayah Gus : Di sini (mengambil nafas) di sini ada sembilan puluh sembilan jagung yang disayembarakan.

Gus : Saya..tidak mengerti bapak (terbata)

Ayah Gus : Huufff..kuatkan pegangan tanganmu

Gus : (memegang tangan ayahnya semakin kuat dan gemetar)

Ayah Gus : Di sini ada sembilan puluh sembilan jagung yang disayembarakan. Mengerti?

Gus : (gugup dan ragu) mengerti, Bapak.

Ayah gus : Jagung itu ditembak dari sana—dari Timur…tak ada yang kena, anakku. Itu adalah berkah kekuatanNya. Mengerti?

Gus : mengerti, Bapak.

Ayah Gus : Aku ini anak ulama.

Gus : Iya, Bapak.

Ayah Gus : Tapi aku tak mau jadi ketib. Tak mau jadi naib. Tak mau jadi penghulu. (berhenti sebentar) Siapa yang bisa mengatakan kepadaku hari kelahiran sesuatu yang kita perjuangkan selama ini?

Gus : Tujuh belas agustus tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, Bapak.

Ayah Gus : Ya (tersenyum senang sambil membelai kulis dan janggut)

Gus : cukur Bapak ?

Ayah Gus : tidak. (diam sebentar) aku tak mau jadi ulama (berhenti sebentar). Tapi aku tak mau jadi nasionalis (diam lagi). Karena itu aku jadi guru. Membukakan pintu hati anak-anak ke taman—(diam sebentar) patriotisme. Dengar?

Gus : Dengar, Bapak.

Ayah Gus : Mengerti?

Gus : Mengerti, bapak.

Ayah Gus : Karena itu aku jadi nasionalis. Berat anakku, Berat. Sungguh berat jadi seorang nasionalis. (dengan mata berbinar)

Gus : Ya, Bapak

Ayah Gus : Karena itu aku memilih jadi guru.

Gus : Ya, Bapak

Ayah Gus : jadi lembaga bangsa.

Ayah Gus : Tapi aku rela jadi nasionalis, aku rela jadi korban semua ini.

Gus : (menguatkan pegangan tangan pada ayahnya dan menangis tersedu-sedu)

Ayah Gus : Sudah, Anakku. Jangan kau pikir lanjut-lanjut.

Semua adik Gus yang ada di kamar menangis. Ayah Gus erbatuk-batuk lagi.

Ayah gus : Cukup anakku. Sekian dulu, pergilah kalian semua. Tinggalkan aku sendirian.

Mereka meninggalkan ayah mereka dengan menangis.

Wulan : Mas, Mas, bapak sudak tak ada.

Gus : (Berlari)

Istri Gus : Panggil Ayah!

Gus : Bapak!

Istri gus : Lagi!

Gus : Bapak!

Pras : Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Jangan Biarkan mulut bapak terbuka,Mas.

Gus : (merapatkan dagu ayahnya dan menutup mata ayahnya)

Pras : (memeluk Gus) Tadi pagi waktu engkau tidur, para tetangga datang Mas. Dan bapak merasa terganggu. Bapak menyuruh mereka pergi juga aku dan adik. Dan tadi waktu aku datang lagi Mas, ayah sudah tak ada.

Gus : Biarlah Adikku. Ikhlaskan kepergian ayah. Engkau masih punya kakak. (menangis dan mencium adiknya)

Datanglah seorang tamu pada sore hari sesudah pemakaman.

Tamu : Aku sudah kenal betul almarhum ayah Tuan. Kami dulu mengembara menjalankan tugas pada daerah gerilya. Ia bekerja pada Belanda. Tapi terus saja beliau bekerja bawah tanah. Tapi apa yang aku katakan itu tak perlu aku katakan lagi. Barangkali Tuan dan adik-adik tuan telah mengetahuinya. Hanya saja yang ingin aku katakan dan barangkali Tuan dan adik-adik tuan tidak ketahui adalah, ayah Tuan gugur di lapangan politik

Gus : (kaget)

Tamu : Aku lihat Tuan kaget. Tapi sesungguhnyalah begitu. Ayah Tuan jatuh sakit oleh kekecewaan. Kekecewaan oleh keadaan yang terjadi setelah kemerdekaan.Mereka yang dulu jadi jendral di daerah gerilya. Mereka yang dulu menduduki kedudukan-kedudukan penting sebelum Belanda menyerbu. Mereka yang telah dianggap sebagai bapak rakyat. Dan bukan tanggung-tanggung lagi, ayah Tuan membela kepentingan mereka itu. Tapi setelah kemerdekaan tercapai, mereka saling berebut gedung dan kursi. Dan bila tidak mendapatkan itu, mereka pergi—mereka pergi karena tak perlu megharapkan gaji. Ayah Tuan tak sanggup melihat keadaan ini, namun beliau harus bergaul dengan lingkungannya. Dan inilah yang mengeramkan penyakit almarhum ayah Tuan, sehingga beliau terkena tbc kilat.

Tamu : Barangkali sudah cukuplah yang saya katakan ini. Ayah Tuan mengundurkan diri dari partai dan segala tetek bengek agar bisa terhindar dari manusia-manusia badut pencuri untung itu. Tapi karena perhatiannya yang sangat besar kepada masyarakat itulah beliau tidak bisa keluar sepenuhnya darin hal itu. Tuan hendaknya bangga mempunyai ayah seperti beliau. Kalau beliau hidup di kota besar, dengan kemampuan seperti itu, beliau bisa menjadi besar. Bahkan menjadi mentri. Tapi ayah Tuan selalu berpegangan pada ajaran Ranggawarsita, karena itulah beliau tidak mau ikut dengan para badut yang gila-gilaan itu.

Tamu : Haah..kiranya sudah malam. Hanya pesanku keraplah berkunjung ke makam ayah Tuan.

 ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: