PERBANDINGAN PERAWATAN DAN PENGELOLAAN NASKAH PRIBADI DENGAN NASKAH YANG DIKELOLA OLEH LEMBAGA

 

 Tinjauan filologis terhadap naskah, tentunya memerlukan waktu yang sangat lama. Terlebih bila mendeskripsikan naskah asli, dan menerjemahkan bahasa lama (kuna), yang sudah tidak terpakai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam menelaah teks, dibutuhkan pendekatan dari berbagai segi keilmuan, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah dan linguistik. Hal ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran bagi para filolog. Tak heran, peminatan dalam jurusan Sastra Indonesia ini, enggan dilirik oleh para mahasiswa.

Untuk mendeskripsikan naskah tulis (manuskrip), peneliti harus secara detail mengungkapkan keadaan naskah. Oleh karena itu, dibutuhkan keakuratan dalam mengukur, serta menelaah naskah yang ada. Peneliti amat terbantu apabila keadaan naskah yang ditemukan dalam kondisi baik. Hal ini sangat sulit, karena daya tahan naskah sangat pendek, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Di Indonesia, jamur mudah tumbuh pada kelembaban 70%.

Karenanya, naskah harus berada pada ruangan yang mempunyai kelembaban antara 50 hingga 55%, begitu juga dengan suhu ruangan yang berkisar antara 23 hingga 25°C. Oleh karena itu, dibutuhkan perawatan naskah yang baik dan benar, untuk memperpanjang usia naskah.

Keadaan naskah yang baik, umumnya tersimpan di lembaga, seperti Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah, museum, atau Perpustakaan Negara Republik Indonesia. Berbeda dengan naskah milik pribadi yang tidak dirawat dengan baik dan benar. Umumnya, pemilik naskah pribadi menyimpan naskah tersebut pada tempat-tempat kecil yang tidak terlihat, karena masih dianggap keramat. Bahkan, ada naskah yang harus mengorbankan dua ekor kambing hanya untuk membacanya. Keadaan seperti ini sangat memprihatinkan, karena naskah yang disimpan terlalu lama di tempat lembab, akan rusak oleh mikroorganisme. Alih-alih membacanya, menyentuh saja kertasnya patah.

Berikut akan diuraikan faktor penyebab kerusakan dan perawatan pada naskah lama:

Faktor 1. High Humidity and Water (Tingginya kelembaban dan kadar air)

70RH% atau lebih tinggi menyebabkan kerusakan yang serius.

Gejala: Jamur, lengket, hancur*, lubang serangga, tinta atau noda stempel, dsb.

*keadaan dokumen seperti katun atau percikan bubuk melalui kerusakan oleh mikroorganisme.

Prosedur:

–          Tempatkan manuskrip pada tempat bersih dan kurang lembab (50RH%±5)

–          Simpan manuskrip pada tempat yang aman dari hujan dan banjir

Contoh: dengan menggantungkan manuskrip pada tiang

Faktor 2. Harmful Insects, Rats, and Rodents (Serangga berbahaya, tikus, dan binatang pengerat)

Gejala: Surat-surat atau gambar yang hilang, karena hewan-hewan tersebut memakan manuskrip.

Manuskrip menjadi kotor (berwarna coklat) dikarenakan oleh kotoran dan urin dari binatang-binatang tersebut.

Prosedur:

–          Jangan meletakkan makanan, dekat dengan manuskrip

–          Letakkan kapur barus di samping manuskrip (bungkus dengan kertas tipis)

–          Simpan manuskrip pada kantong plastik (jangan biarkan manuskrip dalam keadaan lembab atau akan menimbulkan efek yang buruk pada manuskrip)

 

Faktor 3. Ignorance, Human Disasters, Fires, and Robbery (Ketidaktahuan/kebodohan, Kesalahan oleh Manusia, Kebakaran, Perampokan)

 

Gejala: Kebodohan manusia yang tidak tertarik dengan manuskrip, dan membuangnya dengan mudah.

              Manuskrip mungkin terbakar atau hilang dalam kebakaran dan perang.

              Manuskrip mungkin hilang dalam suatu peristiwa.

Prosedur:

–          Ajarkan pemilik naskah dan kaum muda tentang pentingnya naskah kuna.

–          Didiklah orang yang bisa membaca dan mengerti tentang manuskrip

–          Perbaikilah manuskrip untuk mencegah kerusakan yang lebih parah

–          Persiapkan diri akan datangnya banjir dan perampokan.

Catatan: Semua naskah kuna adalah unik. Karena itu, ketika ditemukan kerusakan oleh faktor alamiah atau kelalaian manusia, manuskrip akan selamanya hilang dan kita tidak akan bisa mengembalikannya lagi.

Proyek perlindungan harus membuat rekaman and produksi ulang tentang naskah kuna dalam kopian elektronik seperti fotografi, mikrofilm, atau gambar digital dengan segera. Tetaplah menjaga (memonitor) kondisi naskah kuna, karena naskah seperti itu terlalu rapuh untuk disimpan dalam waktu yang lama.

Diterjemahkan oleh Dita Arisandi (Isamu Sakamoto, TRCC, 2004.7)

Cara Perawatan Naskah di Indonesia
1. Diangin-anginkan (jika cuaca cerah), tetapi tidak boleh terkena sinar matahari langsung karena dapat merusak naskah

2. Menjaga kelembaban udara:

a. Perawatan dengan memberikan air kapur sirih yang ditempatkan pada suatu wadah dan diletakkan di antara naskah.

b. Dengan arang kayu yang telah ditumbuk, lalu dibungkus menggunakan kain kasa dan diletakkan di antara naskah.

c. Menggunakan silica gel

3. Memberi kapur barus pada sela-sela naskah

4. Memberi akar kayu wangi (bila ada reaksi alergi kepada kapur barus)  pada sela-sela naskah

5. Memberi akar cengkeh (bila ada reaksi alergi kepada kapur barus)  pada sela-sela naskah

6. Memberi obat-obat kimia pada sela-sela naskah

7. Membuat salinan-salinan dan memproduksi microfilm dari naskah

8. Mengatur suhu udara pada tempat penyimpanan naskah. Suhu: 23-25° C, kelembaban: 60-65%

Jika naskah sudah rusak, dapat diperbaiki dengan:

1. Laminating

Kelemahan  : beberapa tahun kemudian, tulisan menempel pada plastik dan tidak bisa dibaca.

Contoh                    : seperti kitab-lkitab yang ada di arsip nasional.

2. Backing

Memberi lapisan pada kertas, tetapi tidak menempelsehingga dapat dibuka.

Kelemahan  : Watermark tidak bisa dilihat karena tertutup

Contoh                    : Seperti yang dilakukan pada naskah-naskah di Inggris

3.Leafcasting

Menutup naskah yang berlubang dengan menggunakan kertas washi.

Keunggulan            : Watermark masih terlihat

Contoh                     : Seperti yang dilakukan pada naskah-naskah di Jepang. Dilakukan di TRCC (Tokyo Restoration & Conservation Center)

 

Gb. Naskah di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah di Yogyakarta

         Image  Image

Gb 1 dan 2: Keadaan naskah di BPAD Yogyakarta

 

 Image  Image

Gb. 3 dan 4: Tata cara perawatan buku dengan menggunakan kapur barus, silicon gel, dan pendingin ruangan.

Image

Gb.5: Beberapa naskah yang ditumpuk, sebagian rusak.

 

Perawatan naskah pada BPAD Yogyakarta umumnya cukup baik. Perawatan dilakukan dengan mengatur suhu udara ruangan, menempatkan kapur barus dan silica gel untuk menyerap kelembaban. Sayangnya, beberapa naskah telah rapuh karena salah penyimpanan (ditumpuk terlalu lama).

Berikutnya adalah cara penyimpanan tradisional oleh keluarga (alm) Bapak Mas’ud Abu Sholeh. Dalam penyimpanannya, naskah tersebut mempunyai meja khusus yang dilengkapi dengan sebuah laci. Di dalam laci tersebut tersimpan naskah beserta tinta dan alat tulisnya. Alat tulis yang digunakan masih berupa tinta bak dan kayu yang diruncingkan.

 

Gb. Naskah milik (alm) Bapak Mas’ud Abu Sholeh

Image

Gb. 5: Tempat khusus penyimpanan naskah beserta alat tulisnya.

Image   Image

Gb. 6 dan 7: Kondisi naskah

Perawatan naskah yang dilakukan oleh keluarga (alm) Bapak Mas’ud Abu Sholeh masih menggunakan cara sederhana. Saat didatangi oleh penulis, kondisi naskah cukup buruk karena pemilik telah lama tidak pernah mengeluarkan naskah, dan lupa memberi kapur barus atau obat serangga yang lain. Hal itu dilakukan karena naskah tersebut masih dianggap keramat. Tetapi di sisi lain, pemilik juga tidak mengerti isi dan tata cara perawatan naskah. Keadaan ini menjadikan naskah tersebut sebagai tempat yang nyaman bagi mikroorganisme dan hewan lain untuk berkembang-biak. Ditemukan telur-telur cicak dalam sela-sela naskah. Hal ini sangat berbahaya karena dapat merusak kertas naskah, yang berakibat ditemukan beberapa lubang dalam naskah. Walaupun demikian, tulisan masih terbaca dengan jelas dan memerlukan kecermatan para filolog untuk menggali naskah lebih dalam.

 

 

 

Iklan

Ditandai:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: