Review: Kinanthi (Terlahir Kembali)

Halo! Rasanya lama sekali saya meninggalkan blog ini. Mencuri-curi waktu yang tepat untuk menulis dan…yep, saya bulatkan tekad mereview beberapa novel terbitan Bentang Pustaka. Dimulai dari “Kinanthi”. Well, dari judulnya aja udah keren ya. Cekidot!

Judul buku: Kinanthi (Terlahir Kembali)

Penulis : Tasaro G.K

Penyunting: Dhewiberta

Tebal halaman: 536 halaman

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun terbit: 2012

 

Sinopsis

Saya akan mencoba membuat ringkasan sesingkat-singkatnya. Berhubung buku ini lumayan lama, jadi menurut saya ga masalah kalau spoiler. Hehe..

Kinanthi sebagai tokoh utama, diceritakan berlatar belakang dari keluarga miskin yang hidup di daerah Gunung Kidul. Ia terhina oleh keadaan keluarganya karena orang-orang dusun hingga teman-teman sepergaulannya di sekolah, terus menerus mengejek dan menghindarinya. Hanya ada satu teman yang menemaninya kapanpun dan dalam keadaan apapun. Ajuj, nama pemuda itu. Terpaut 2 tahun lebih tua dari Kinanthi yang saat itu berusia 10 tahun. Ajuj menemani Kinanthi yang dikucilkan dan selalu menggendong adiknya yang bernama Hasto, kemanapun ia pergi.

Saat-saat trenyuh pun tiba. Kinanthi dititipkan kepada teman ayahnya yang bernama Edi, dan ditukar dengan 50 kilogram beras. Berbeda dengan ibunya, ayah Kinanthi yang sangat menyayanginya memang tak tega, namun dengan begitu beliau mengharapkan kehidupan Kinanthi akan lebih baik karena dicukupi kebutuhan dan pendidikan. Di saat-saat itulah, keterikatan antara Ajuj dan Kinanthi digambarkan sangat nyata di mata keduanya. Adegan dramatis dimunculkan ketika Ajuj mengejar mobil Edi yang membawa Kinanthi pergi dengan bercucuran air mata.

Di tempat Edi, Kinanthi dijadikan pembantu. Tanpa gaji. Awalnya Kinanthi baik-baik saja, namun kemudian ia resah karena tak memiliki uang untuk membeli perangko surat yang akan dikirimkan ke Ajuj. Kinanthi yang digambarkan sebagai sosok yang tertutup memang tak mudah bergaul, namun ia mempunyai teman dekat yang berkarakter kuat dan percaya diri, Euis. Dari Euislah Kinanthi mampu mengirim surat-surat ke rumah Ajuj.

Setelah kematian teman dekat Kinanthi yang bernama Gesit karena bunuh diri akibat permintaan Gesit tidak diterima oleh Kinanthi, mimpi buruk Kinanthi benar-benar dimulai. Setahun ia disekap di dalam rumah Eli dan Edi dengan siksaan penuh. Tahun berikutnya, ia yang baru berumur 14 tahun dikirim menjadi TKW ke Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga dengan memalsukan umurnya.

Menjadi TKW, Kinanthi menerima berbagai perlakuan kasar yang berpengaruh pada kondisi fisik dan psikisnya. Ia berkali-kali kabur dari majikan ke majikan baru di Arab, Kuwait dan terakhir di Amerika. Tak hanya dipukul dan dijambak, Kinanthi juga diperkosa bergiliran oleh majikannya.

Kinanthi yang shock ditemukan oleh Arsy, perempuan asal Mesir yang tinggal di Amerika. Beruntung, Arsy sangat baik hati. Kiannthi dirawat di rumahnya, diberikan pengobatan, perlindungan dan bantuan hukum. Dalam sidang, Kinanthi dikukuhkan sebagai warga negara Amerika yang berhak mendapatkan pendidikan dan perlindungan, dengan ditunjuk Asma sebagai ibu asuh. Di bawah pengasuhan Asma, Kinanthi tumbuh menjadi remaja yang cerdas.

Di kemudian hari, Kinanthi telah berhasil menyabet gelar profesor yang menghasilkan buku, jurnal-jurnal dan dijuluki Queen of New York karena karyanya laku keras dipasaran dan memberikan terobosan baru. Ditengah-tengah kesuksesannya, Kinanthi merasa ada yang kosong dan mengganjal. Surat-suratnya, tak satupun dibalas Ajuj. Padahal ia sangat membutuhkan pria itu di masa-masa sulit.

Kinanthi kemudian memutuskan menulis novel. Kali ini bergenre romance-fiksi. Ia bersama Zhaxi editor cerdas yang telah mengedit keseluruhan karya-karyanya, mencari ending dari novel tersebut yang diambil lebih dari 50% dari hidupnya. Ia memutuskan pulang, bertemu Ajuj, dan masa lalunya yang menyakitkan ketika ditukar orangtuanya dengan kantong beras.

Di desa, suasana sangat dramatis. Pertemuan yang awalnya biasa saja berubah menjadi drama ketika Kinanthi dan Ajuj sama-sama mengetahui fakta yang sebenarnya. Ketika Kinanthi akan pulang ke Amerika, terjadi gempa yang mengakibatkan Ajuj koma. Kinanthi sepenuhnya menanggung biaya Ajuj dan kembali ke Amerika.

Di Amerika, Kinanthi menyelesaikan novelnya dan telah memikirkan akhir dari novel tersebut yang berarti juga akhir dari kisah cintanya dengan Ajuj. Setahun koma, Ajuj belum sadar. Ayah Ajuj bersikeras mencopot seluruh bantuan pernafasan dan mengebumikan Ajuj. Kinanthi terisak tak berdaya hingga ia membuka identitasnya sebagai seorang dokter.

Tiba hari peluncuran novel Kinanthi yang diiringi kegundahan hatinya. Setelah ia sedikit memberi sambutan dan riuhan tepuk tangan, Zhaxi melamarnya. Belum sempat ia mencerna segala hal yang ia terima, mendadak Kinanthi mendapat telepon dari Hasto, adiknya yang mengabarkan bahwa Ajuj telah sadar. Seketika, Kinanthi menangis dan tertawa sebagai luapan emosi kegembiraan yang tak terkira.

Review 

Wow. Satu kata yang hanya bisa saya katakan untuk mewakili buku ini. Dibalik covernya yang teenlit banget sehingga awalnya saya tak berselera untuk membaca, buku ini menguak segudang permasalahan anak bangsa yang amat nyata dan serius. Sangat serius.

Penulis mampu membawa saya menuju detail latar belakang hingga awal permasalahan, tanpa kaitan yang mengada-ada. Penulis juga mampu menyedot seluruh perhatian saya hingga mengingatkan saya saat berada di bangku kuliah dulu, mendengarkan ceramah dari dosen-dosen saya yang isinya kurang lebih sama seperti yang telah dipaparkan dalam buku ini, sekaligus mengingatkan saya tentang beberapa diskusi tengah malam bersama bapak-bapak, teman-teman LSM yang sering terjun ke lapangan terkait isu tersebut. Baiklah, di bawah akan saya kupas sedikit beberapa isu yang saya maksudkan.

Human Trafficking

Masalah human trafficking pada novel ini dibahas bukan hanya sekilas, namun secara langsung melalui alur kehidupan Kinanthi yang diambil sebagai salah satu contoh kasus human trafficking yang banyak terjadi di Indonesia.

 

“Miranda merasa perih ketika menyadari bahwa Kinanthi adalah anak negri bernama Indonesia. Kisah pilunya tidak sekadar disebabkan oleh nasib buruk. Segalanya bermula ketika negeri tempatnya lahir tidak mampu memberi kesejahteraan yang mencukupi kebutuhan warganya. Zaman seperti mundur berabad-abad ketika Miranda mendengar kisah Kinanthi yang ditukar dengan sekarung beras seberat lima puluh kilogram. Sekarang, kisah hidup Kinanthi kian menjauh dari episode happy ending karena negerinya tidak mampu memberi perlindungan hukum padang pasir, bangsanya tidak memiliki tangan yang merentang memberikan kepastian keamanan. Nasibnya seperti dandelion yang mengambang di udara sesuai dengan keinginan angin.”—hlm. 197

 

Penggalan paragraf di atas sangat relevan dengan keadaan beberapa anak bangsa kita saat ini. Beberapa anak yang mampu, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sisanya, mau tak mau harus pergi dari tanah kelahirannya untuk mencari kehidupan yang layak karena tak ada tanah garapan di lingkungan sekitarnya. Tak jarang ditemukan para calon TKW tidak mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan namun berakhir dalam pekerjaan ilegal sebagai budak tanpa bayaran, dijadikan pekerja di tempat prostitusi sampai entah kapan, atau kasus jual-beli manusia lainnya yang kerap kali diulas oleh media Indonesia.

Dalam novel ini, Kinanthi digambarkan sebagai gadis desa yang lugu, tidak tamat SMP namun cerdas. Dalam perjalanan hidupnya menjadi budak tanpa bayaran, ia mampu bertahan dari berbagai siksaan hingga menjadi profesor, penulis handal dan aktivis dalam menyuarakan masalah kemanusiaaan melalui proses panjang yang berdarah-darah. Namanya digaungkan hampir di seluruh dunia dan cermahnya sangatlah dinanti-nanti. Kisah hidupnya digambarkan sekilas oleh Kinanthi saat ia berdiri sebagai pembicara tunggal karena penulis buku tentang trafficking yang seharusnya membahas buku tidak dapat menghadiri acara tersebut, pada paragraf di bawah ini.

 

“Well, apa yang diceritakan Zana dalam buku ini merupakan isu global yang seharusnya menjadi perhatian penduduk dunia. Trafficking adalah aktivitas yang tidak bisa ditoleransi lagi dalam budaya masyarakat mana pun. Persoalan ini sama gawatnya dengan isu global warming. Selain itu, sebagai pribadi saya pun terikat dengan apa yang dialami Zana.” –hlm. 314.

“Saya mengalami masa-masa sulit yang mirip dengan pengalaman Zana. Sama-sama dijual ayah kandung, sama-sama terdamar di negeri Arab, sama-sama mendapat perlakuan kasar. Sama-sama berusaha kerasa untuk keluar dari kondisi itu. Itulah mengapa saya sangat bisa menjiwai apa yang ditulis Zana.” –hlm. 315.

Human Trafficking yang menjadi persoalan di seluruh dunia, seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia agar warga negaranya memperoleh perlindungan sebaik-baiknya dari peristiwa perbudakan dan kesewenang-wenangan terhadap manusia ini.

Pendidikan

Agama

Budaya

Perjuangan atau Eksistensi

(menyusul)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: